BAB I
PENDAHULUAN
A. Latarbelakang
Plastik
adalah material yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kemajuan
teknologi dan industri membuat aktivitas produksi plastik terus meningkat. Hampir semua produk menggunakan plastik baik sebagai kemasan atau bahan
dasar. Material plastik banyak digunakan
karena memiliki kelebihan dalam sifatnya yang ringan, transparan, tahan
air, serta harganya relatif murah dan terjangkau oleh semua kalangan masyarakat. Segala
keunggulan ini membuat plastik digemari dan banyak digunakan dalam hampir setiap aspek kehidupan manusia. Akibatnya,
jumlah produksi plastik yang akan menjadi sampah pun terus
bertambah.
Menurut
Jean-Francois Nobelt (2005 : 4 - 7), Negara-negara berkembang berusaha
meningkatkan taraf hidupnya dengan tingkat konsumsi yang tinggi, sehingga
mereka membuang banyak sampah. Misalnya saja di Indonesia, sampah yang terbuang
setiap harinya saja sekitar 11.330 ton. Padahal di negara-negara maju seperti Afrika,
seorang Afrika hanya menghasilkan 17 kg sampah rumah tangga setiap tahunnya.
Sampah yang begitu banyak membuat dunia kita menjadi rusak dan kemudian terjadi penyakit
dimana-mana. Tentunya kita tidak ingin hal itu terjadi lagi bukan?
Kurangnya
kesadaran akan limbah dan tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya
yang semakin bertambah mengakibatkan sampah terus menumpuk di Tempat Pembuangan
Akhir (TPA). Sampah yang umum ditemukan di TPA antara lain botol minuman,
deterjen, dan kantong plastik. Sampah-sampah yang kurang menarik tersebut membuat kita
enggan melihat bahkan meliriknya. Padahal jika kita mau berusaha sedikit,
sampah-sampah tersebut dapat menjadi peluang usaha.
Maka,
disini akan dipaparkan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas.
Begitu juga dengan tip dan trik agar usaha daur ulang sampah plastik dapat terus berkembang dan sukses.
B.
Tujuan
1. Mahasiswa dapat melihat peluang
Usaha kedepannya.
2. Mahasiswa dapat menganalisis permodalan
dalam berwirausaha.
3. Mahasiswa dapat mengetahui
keuntungan dari usaha berkaitan kompetensi kedepan.
4. Mahasiswa dapat mengetahui teknisi
pengolahan daur ulang plastic.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sampah Plastik
Limbah/sampah
adalah sisa/buangan hasil aktivitas manusia/makhluk hidup atau aktivitas alam
yang dapat mengganggu keseimbangan alam jika jumlahnya melebihi ambang batas.
Aktivitas manusia tersebut antara lain kegiatan pabrik, kegiatan rumah tangga,
dan pembakaran. Sedangkan aktivitas alam berupa bencana alam, misalnya gunung
meletus, banjir, dan tanah longsor (Haryanti, 2011: 1). Limbah tersebut
memiliki komponen yang beragam dari yang organik sampai yang nonorganik, yang
dapat didaur ulang sampai yang tidak dapat didaur ulang. Salah satu komponen
limbah yang dapat didaur ulang dan yang sering kita jumpai adalah plastik.
1.0 Pengolahan Sampah Plastik
Menurut
Gugun Gunawan (2007: 17 - 18) plastik mewakili ribuan bahan yang berbeda sifat
fisik, mekanik, dan kimianya. Secara garis besar plastik dapat digolongkan
menjadi dua kelompok besar, yakni plastik yang bersifat thermoplastic dan bersifat thermoset.
Thermoplsatic dapat dibentuk kembali
dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila telah dipakai tidak dapat
digunakan kembali. Plastik yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari
adalah dalam bentuk thermoplastic.
Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus meningkat.
Sebagai konsekuensinya, peningkatan sampah plastik pun tidak terelakkan. Di
Jabotabek, rata-rata setiap pabrik menghasilkan satu ton sampah plastik setiap
minggunya. Jumlah tersebut akan terus bertambah karena sifat-sifat yang
dimiliki plastik, antara lain tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami,
tidak dapat menyerap air, dan tidak dapat berkarat sehingga pada akhirnya
menjadi masalah bagi lingkungan.
Hampir
seluruh jenis sampah plastik (80%) dapat diproses kembali menjadi barang
semula. Ada juga beberapa jenis sampah plastik yang harus dicampur terlebih
dahulu dengan bahan baku baru untuk meningkatkan kualitasnya. Tiga jenis sampah
plastik yang populer dan laku di pasaran, yaitu:
1. Polietilena (PE)
Polietilena
adalah bahan plastik yang tahan air, asam, alkali, dan hampir semua jenis cairan.
Contohnya: plastik pembungkus produk makanan, jus dan minuman, tirai plastik
(biasa digunakan sebagai tirai pada shower), botol antipecah, pipa, ember,
gelas, dan penyekat kawat atau kabel.
2. High Density Polyethylene (HDPE)
Plastik
jenis ini juga resisten terhadap berbagai zat cair. Contohnya: melamin (piring
dan gelas melamin), kemasan deterjen, kemasan susu dari karton, tangki bahan
bakar kendaraan, kantong plastik, temapt makan plastik, dan pipa air.
3. Polipropilenia (PP)
Polipropilenia
adalah produk-produk yang terbuat dari fiber
glass.
Prinsip-prinsip
yang bisa diterapkan dalam pengolahan sampah plastik menurut Gugun Gunawan
(2007: 4 - 5) dikenal dengan nama 4R, yaitu:
1. Reduce (Mengurangi)
Mengurangi
maksudnya sebisa mungkin meminimalisasi barang atau material yang kita
pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah
yang dihasilkan. Misalnya, kita selalu menggunakan kantong plastik saat
berbelanja. Jika dalam satu minggu kita berbelanja sebanyak tiga kali, maka
dalam sebulan kita akan menghasilkan sampah berupa kantong plastik sebanyak 12
buah. Tumpukan sampah kantong plastik akan terus bertambah jika kita tidak
segera mengurangi penggunaannya, atau bahkan menggantinya dengan kantong
belanjaan yang ramah lingkungan, seperti kantong anyaman dari daun pandan.
2. Reuse (Menggunakan kembali)
Sebisa
mungkin kita memilih barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian
barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat
memperpanjang waktu pemakaian barang sebellum barang tersebut menjadi sampah.
Misalnya: menggunakan botol plastik (produk minyak goreng atau sabun) yang bisa
diisi ulang. Dengan demikian, setidaknya kita tidak akan menghasilkan sampah
botol plastik selama beberapa lama.
3. Recycle (Mendaur ulang)
Sebisa
mungkin barang-barang yang sudah tidak berguna didaur ulang lagi. Tidak semua
barang bisa didaur ulang, tetapi saat ini sudah banyak industri informal dan
industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain. Di antara
industri-industri ini ada yang mengubah sampah plastik menjadi berbagai
suvenir, sampah kertas menjadi lukisan dan mainan miniatur, atau sampah
alumunium foil menjadi tas dan dompet.
4. Replace (Mengganti)
Mengganti
maksudnya teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang
yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga
telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan.
Misalnya, ganti kantong plastik kita dengan keranjang saat berbelanja, dan
jangan pergunakan styrofoam karena
kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami. Kita bisa menggunakan tas
anyaman dari daun pandan atau bambu sebagai pengganti kantong plastik dan
menggunakan daun pisang untuk membungkus makanan kita.
1.1 Sampah Botol Plastik Mencemari
Lingkungan
Secara
umum, terdapat empat (4) persyaratan agar sampah plastik dapat diproses oleh
sebuah industri, antara lain: (Gugun Gunawan, 2007: 20)
1. Sampah plastik harus berbentuk
tertentu, sesuai kebutuhan (biji, pellet, serbuk, atau pecahan). Misalnya
industri yang memproduksi alat-alat tulis hanya membutuhkan biji plastik.
Sementara untuk pellet, serbuk atau
pecahan dibutuhkan oleh industri-industri yang membutuhkan kemasan plastik dan
memproduksi barang-barang dari plastik, seperti industri mainan anak-anak,
2. Harus homogen. Artinya, sampah
plastik tersebut sudah dikelompok-kelompokkan dan tidak lagi tercampur dengan
jenis sampah lain,
3. Tidak terkontaminasi oleh zat-zat
kimia yang dapat menurunkan kualitas produk yang dihasilkan, dan
4. Diupayakan tidak teroksidasi. Artinya, sampah plastik tersebut
masih dalam keadaan layak produksi dan tidak mengandung zat-zat kimia
berbahaya.
B.
Pengolahan Sampah Plastik Menjadi
Biji Plastik
Pemanfaatan sampah plastic (Gugun
Gunawan, 2007: 20-21) dengan cara mengolahnya kembali merupakan upaya untuk
menekan pembuangan plastik seminimal mungkin. Pemanfaatan sampah plastik dapat
dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse)
maupun daur ulang (recycle). Di
Indonesia pemanfaatan sampah plastik dalam skala rumah tangga umumnya adalah
pemakaian kembali (reuse) untuk keperluan yang berbeda,
misalnya kaleng atau wadah bekas cat yang terbuat dari plastik digunakan untuk
pot dan ember. Namun, hal itu tidak dapat menyelesaikan masalah volume sampah
plastik yang semakin bertambah. Proses daur ulang tampaknya sudah menjadi harga
mati untuk menanggulangi krisis sampah plastik ini.
1.3 Biji Plastik
Sebelum membahas proses daur ulang
plastik secara lebih mendalam, akan lebih baik jika kita mengetahui
tahapan-tahapan pendaurulangan sampah plastik menjadi biji plastik/bahan baku setengah jadi, yaitu:
1. Pemisahan: sampah plastik harus
dipisahkan dari material sampah lainnya, misalnya memisahkannya dari material
sampah organik
atau keras.
2. Pemotongan: sampah plastik yang
sudah dipisahkan kemudian dipotong-potong sesuai dengan kebutuhan. Jika akan
diolah menjadi biji plastik, sampah plastik ini harus dipotong kecil-kecil
untuk mempermudah proses pengolahannya.
3. Pencucian; sampah plastik yang
suadah menjdi potongan-potongan ini harus dicuci untuk membersihkannya dari
zat-zat tertentu yang tidak dibutuhkan atau dapat mengganggu proses pengolahan.
Contoh zat tersebut adalah besi
4. Penggilingan; setelah dicuci, sampah
plastik kemudian digiling agar menjadi biji plastik. Tanda bahwa biji plastik
yang dihasilkan melalui penggilingan memiliki kualitas bagus adalah dari
mengapung tidaknya biji plastik tersebut di atas air.
5. Biji plastik yang telah diolah
inilah yang akan dikirim ke pabrik pengolahan produk-produk daur ulang.
1.4 Pemotongan Sampah Plastik
Berikut ini adalah jenis-jenis biji
plastik dan harga jualnya:
|
Jenis Biji plastic
|
Harga (Rp/kg)
|
|
Biji plastik Hd (Ex Injection)
|
7.000
|
|
Biji plastik Abs
|
10.000
|
|
Biji plastik Pet
|
5.500
|
|
Biji plastik Pp Cokelat
|
8.000
|
|
Biji plastik Pp putih
|
12.000
|
|
Biji plastik Pp hitam, merah, biru
|
6.000
|
|
B plastik Pp resin
|
7.000
|
C.
Pengolahan Usaha Daur Ulang Sampah
Plastik Menjadi Bahan Baku Jadi (Biji Plastik)
1. Modal
Modal yang dibutuhkan untuk
mendirikan usaha daur ulang sampah plastik sangat bervariasi, yaitu antara Rp
5.000.000,- sampai dengan Rp 10.000.000,-. Modal awal tersebut digunakan untuk
membeli mesin cetak seharga Rp 3.000.000,-, sampah plastik (bahan baku 2
kwintal) Rp 2.000.000,- dan sewa tempat usaha Rp 5.000.000,- untuk satu tahun.
2. Pembiayaan
Dengan modal Rp 2.000.000 sampai Rp
5.000.000, kita bisa menyewa tempat yang cukup representative untuk tempat
usaha kita. Sisa modal usaha, kita gunakan untuk membeli sampah plastik dari
pemulung dan untuk upah pekerja kita. Sementara dengan modal Rp 15.000.000 – Rp 25.000.000,- di tangan, kita bisa membayar upah
lebih banyak pegawai dan membeli lebih banyak sampah plastik dari pemulung.
Modal besar akan mempermudah kita untuk mengembangkan usaha, bukan hanya
sebagai pengepul atau pemasok biji plastik, tetapi juga sebagai produsen
barang-barang hasil daur ulang sampah plastik.
|
Keterangan
|
Nilai (Rp)
|
|
A. Biaya Tetap
Sewa tempat usaha Rp 5.000.000 :
12 =
Depresiasi peralatan Rp 3.000.000
: 12 =
|
420.000
250.000
|
|
B.
Biaya Variabel
Gaji pegawai (Rp 40.000 x 4 orang
x 30 hari)
Biaya listrik
Biaya telepon
|
4.800.000
150.000
300.000
|
|
C. Pembelian bahan baku (2 kwintal)
|
2.000.0000
|
|
Biaya total
|
7.920.000
|
Jika
kita bisa mengoptimalkan usaha pengolahan sampah plastik hingga mencapai
minimal 10 ton biji plastik per bulan dengan harga Rp 5.000,- per kilogram maka
omset yang akan kita peroleh bisa mencapai Rp 50.000.000,- dari omset tersebut,
kita akan mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp 42.080.000,-. Dengan
keuntungan per bulan mencapai angka puluhan juta, dalam satu bulan kita sudah
bisa balik modal.
3. Tenaga Kerja
Pengolahan
sampah plastik menjadi biji plastik tidak memerlukan banyak tenaga kerja, 4 – 5
orang pekerja sudah lebih dari cukup. Para pekerja tersebut bertugas untuk
menyortir sampah plastik, membersihkan, menggiling, dan mencetaknya dengan
mesin cetak. Agar usaha pengolahan biji plastik kita berjalan lancar, kita
harus tetap menjaga hubungan baik dengan para pemulung. Mereka adalah pemasok
utama bahan baku usaha kita. Semakin banyak pemulung yang menjual sampah
plastiknya kepada kita, semakin baik usaha pengolahan biji plastik yang kita
dirikan. Apalagi usaha pengolahan sampah plastik membutuhkan jenis sampah
plastik tertentu yang harus dipilah dari ribuah ton sampah. Kita membayar para
pemulung berdasarkan jumlah sampah plastik yang berhasil mereka kumpulkan dan
sortir.
Harga
beli sampah plastik dari pemulung:
|
Jenis Biji plastic
|
Harga (Rp/kg)
|
|
Plastik bekas air mineral
|
3.000
|
|
Pipa pralon
|
5.000
|
|
Sampah plastik lain
|
2.0
– 2.500
|
4. Penyaluran / distribusi
Untuk
biji plastik, kita bisa menyalurkannya ke pabrik-pabrik yang memang membutuhkan
biji plastik sebagai bahan baku, seperti pabrik yang memproduksi alat tulis
atau pabrik-pabrik yang menghasilkan produk-produk daur ulang. Dalam hal ini,
jaringan usaha yang luas sangat diperlukan karena tanpa jaringan akan sulit
bagi kita untuk memasarkan produk kita. Sebagai permulaan, kita bisa meminta
bantuan koperasi UKM atau kementrian industri dan kementrian Lingkungan Hidup
untuk memberi akses ke perusahaan-perusahaan yang memproduksi produk-produk
dari plastik.
D.
Pengolahan Sampah Plastik Menjadi
Produk Jadi (Souvenir)
Ketika
mengunjungi resepsi pernikahan teman atau saudara, biasanya kita akan
mendapatkan souvenir yang menarik dari acara resepsi tersebut. Souvenir itu ada
yang berbentuk gantungan kunci, bingkai kaca kecil, pembuka botol ukuran kecil, dan tempat
tusuk gigi. Mungkin kita pernah bertanya-tanya, bagaimana cara membuat souvenir tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya jika kita membaca kisah Didit
Purwono berikut ini. Pada pertengahan tahun 1998, Didit memutuskan untuk
mendirikan usaha daur ulang sampah plastik menjadi souvenir. Sebagai investasi
awal, ia mengeluarkan dana sebesar Rp 5.000.000,- Dengan uang tersebut, ia
membeli mesin cetak secong Rp 3.000.000,- dan sisanya ia gunakan untuk bahan
baku berupa sampah plastik. Didit memutuskan untuk memfokuskan usahanya pada
produksi souvenir pernikahan karena menurutnya, souvenir pernikahan memiliki
daya jula yang cukup tinggi dan sudah memiliki segmen pasar tersendiri.
1.5 Berbagai Souvenir cantik dari Plastik Bekas.
Awalnya,
Didit menjalankan usaha daur ulangnya ini di Surabaya. Namun, pada tahun 2000
ia memindahkan produksinya ke Jakarta. Pemindahan tempat usaha ini sangat
membantu perkembangan usahanya karena akan lebih mudah memasarkan produk di
Jakarta di banding di Surabaya. Untuk menghasilkan produk-produk souvenir
pernikahan, ia membutuhkan 4 kwintak bahan baku plastik per bulan. Dari bahan
baku tersebut, ia bisa memproduksi ratusan souvenir pernikahan dalam berbagai
bentuk. Saat ini omset usahanya bisa mencapai Rp 20.000.000,- per bulan. Dan
agar, produk-produknya semakin dikenal orang, ia pun kemudian membuka kios di
Pusat Grosir Cililitan dan workshop di
Surabaya dan Jakarta.
Contoh
souvenir pernikahan dari sampah plastik:
·
Tas
·
Bingkai foto kecil
·
Berbagai souvenir pernikahan yang sedang dipajang
·
Cermin kecil
·
Gantungan kunci
1. Bahan Baku
Sampah
plastik yang dibutuhkan dalam produksi souvenir pernikahan adalah gelas plastik
air mineral dan ember bekas. Biasanya, bahan baku tersebut bisa kita peroleh
dari pengepul sampah plastik atau produsen biji plastik yang sudah memiliki
mesin penghancur plastik. harga bahan baku plastik yang sudah dihancurkan
adalah Rp 3.000,- per kilogram. Untuk satu kali produksi, minimal dibutuhkan 50
kg bahan baku, dengan harga satuan Rp 3.000 /kg.
2. Peralatan
Berikut
ini peralatan yang dibutuhkan dalam proses produksi :
·
Tong kapasita 100 liter, tong ini digunakan untuk menampung
bahan baku plastik yang sudah dihancurkan dalam proses pemanasan/pelelehan.
·
Kompor semawar; untuk proses pemanasan/pelelehan bahan baku, kita harus
menggunakan kompor semawar. Selain dapat menghasilkan panas dan maksimal,
kompor ini juga memiliki suhu panas yang tetap stabil.
·
Dua batang besi ukuran 4 m yang berfungsi sebagai tuas
pengungkit. Kita mempergunakan besi tersebut saat menuangkan cairan bahan baku
ke mesin cetak.
·
Matras; agar produk yang dihasilkan bagu (detail-detail dari
reliefnya jelas), setiap produk yang telah dicetak harus di-press dengan menggunakan matras.
·
Gergaji; alat ini digunakan untuk merapikan produk agar
sesuai dengan bentuknya. Jika masih terdapat produk yang bentuknya belum sesuai dengan pola, kita harus memotongnya
dengan menggunakan gergaji kecil.
·
Mesin amplas; pada saat pengamplasan akan lebih cepat dan
efisien jika kita menggunakan msin. Mesin amplas ini dapat dibeli di toko-toko
yang menjual peralatan pertukangan elektrik. Mesin amplas ini masih menggunakan
amplas sebagai media pengamplasan.
·
Alat pendingin/kipas angin untuk menjaga kondisi suhu pada
tungku/tong dan alat press agar tetap
stabil.
·
Alat semprot; pet atau yang lebih dikenal dengan nama kepala
semprot ini berbentuk seperti pistol dengan tabung di atasnya. Alat ini
berfungsi untuk menyimpan cat atau pernis yang akan disemprotkan di seluruh
permukaan produk souvenir.
·
Kompresor listrik: kompresor yang berkekuatan kira-kira 0,5
PK ini cukup untuk menyemprotkan cat dan pernis ke seluruh permukaan benda,
seperti gantungan kunci atau bingkai kaca. Kita dapat menghemat biaya pembelian
jika membeli kompresor berbahan bakar bensin.
Berikut ini adalah daftar harga dari
alat-alat tersebut:
|
Keterangan
|
Harga (Rp)
|
|||
|
Gergaji manual
|
50.000
|
|||
|
Mesin amplas
|
300.000
|
|||
|
Alat press matras
|
5.000.000
|
|||
|
Alat semprot
|
200.000
|
|||
|
Kompresor listrik
|
75.000
|
|||
|
Alat pendingin
|
300.000
|
|||
|
Total Biaya
|
5.925.000
|
|||
3. Tahap-tahap pengerjaan
a. Bahan baku plastik yang sudah dibeli
dimasukkan ke dalam tong besar. Hal ini dilakukan untuk memudahkan proses
produksi, dan agar bahan baku tidak tercecer.
b. Setelah proses pengumpulan bahan
baku selesai, dimulailah langkah pemanasan. Langkah ini dilakukan dengan
memanaskan bahan baku hingga mencair agar proses pencetakan lebih mudah
c. Setelah pemanasan, kemudian
dilakukan proses pencetakan bahan baku yang telah menjadi cairan kental
dimasukkan ke dalam tuas pengungkit/ mesin genjot. Hal ini dilakukan untuk
membuat souvenir sesuai pola yang diinginkan.
d. Langkah selanjutnya adalah proses
pengepresan dengan alat press matras. Pengepresan dilakukan agar kita bisa
mendapatkan hasil produk yang berkualitas, baik dari segi bentuk maupun ukuran.
e. Proses berikutnya adalah pemotongan.
Dalam proses ini, produk dirapikan dengan memotong bagian-bagian tepinya
f. Setelah dilakukan pemotongan,
langkah selanjutnya adalah proses pengamplasan. Proses ini dilakukan agar
setiap produk yang akan dicat sudah halus dan relief/ detail-detail kecilnya
lebih terlihat.
g. Langkah berikutnya adalah pengecatan.
Langkah pengecatan menggunakan mesin ini dilakukan dengan kecermatan yang cukup
tinggi karena pengecatan yang ceroboh akan meninggalkan jejak penumpukan cat di
permukaan produk yang dibuat. Proses ini sebaiknya dilakukan pada saat hari
sedang cerah karena akan mempercepat proses pengeringan dan memasuki langkah
pemernisan. Untuk proses pengecatan ini diperlukan ketelitian, khususnya untuk
pengecatan produk yang memiliki lebih dari dua warna.
h. Langkah terakhir adalah pemernisan.
Langkah inilah yang menjadikan produk terlihat menarik. Proses pemernisan
menjadikan warna yang masih kusam menjadi mengkilap. Proses ini sebaiknya
dilakukan saat hari cerah agar produk yang sudah disemprot pernis mudah kering.
Dan akhirnya produk siap untuk dibungkus/ dipak sebelum dipasarkan.
4. Kapasitas produksi
Kapasitas
produksi dalam sehari bisa mencapai 10.000 buah souvenir. Biaya produksi
persatuan Rp 175,- dengan harga jual Rp 250,-; itu untuk bentuk yang biasa.
Kapasitas produksi untuk satu bulan bisa mencapai 300.000 buah souvenir dengan
berbagai macam item. Asumsi omset 300.000 buah produk x harga jual Rp 250 = Rp
75.000.000,- per bulan, adapun produk yang dihasilkan yaitu gantungan kunci,
bingkai kaca, bukaan botol, dan tempat tusuk gigi.
E.
Pengolahan Usaha Daur Ulang Plastik
Menjadi Suvenir
1. Modal
Modal
awal dari usaha ini adalah Rp 10.000.000 – Rp 15.000.000, Dana tersebut
digunakan untuk sewa tempat usaha, pembelian alat dan perlengkapan, serta bahan
baku. Berikut ini adalah estimasi dana yang harus kita keluarkan ketika pertama
kali mendirikan usaha ini.
|
Keterangan
|
Nilai (Rp)
|
|
Sewa tempat usaha untuk satu tahun
|
|
|
Pembelian
|
5.000.000
|
|
-
Gergaji
manual 4 buah @ Rp 50.000
|
200.000
|
|
-
Mesin
amplas
|
300.000
|
|
-
Alat press matras
|
5.000.000
|
|
-
Alat
semprot
|
75.000
|
|
-
Kompresor
listrik
|
950.000
|
|
-
Alat
pendingin
|
300.000
|
|
Pembelian perlengkapan
|
|
|
-
Thinner
|
7.000
|
|
-
Cat
|
20.000
|
|
-
Pernis
|
25.000
|
|
-
Amplas
|
10.000
|
|
Pembelian bahan baku 100 kg (Rp
2.500 per kg)
|
250.000
|
|
Total Biaya
|
12.137.000
|
2. Pembiayaan
Dalam sebulan, kita harus menyiapkan
dana rutin agar usaha daur ulang plastik yang kita dirikan dapat terus
berjalan. Yang termasuk ke dalam dana/ biaya rutin tersebut adalah biaya sewa
tempat usaha, depresiasi peralatan, pembelian perlengkapan, biaya listrik dan
telepon, usaha pekerja, dan pembelian bahan baku. Berikut ini adalah perkiraan
estimasi dana yang harus dikeluarkan per bulan:
|
Keterangan
|
Nilai (Rp)
|
|
Biaya tetap
|
|
|
Sewa tempat usaha Rp 5.000.000 :
12 =
|
420.000
|
|
Depresiasi
|
|
|
- Gergaji manual 4 x @Rp 50.000 = Rp
200.000: 12 bulan=
|
250.000
|
|
- Mesin amplas Rp 300.000: 24 bulan
=
|
13.000
|
|
- Alat press matras Rp 5.000.000: 24
bulan =
|
209.000
|
|
- Alat semprot Rp 75.000 : 12 bulan
=
|
5.000
|
|
- Kompresor listrik Rp 950.000: 24
bulan =
|
40000
|
|
- Alat pendingin Rp 300.000: 24
bulan =
|
12.500
|
|
Biaya variabel
|
|
|
Biaya listrik
|
1.500.000
|
|
Biaya telepon
|
300.000
|
|
Biaya pekerja (12 orang)
|
9.000.000
|
|
Beli perlengkapan
|
|
|
- Thiner 50 liter (50 x Rp 7.000)
|
350.000
|
|
- Cat 50 kilogram (50 x Rp 20.000)
|
1.000.000
|
|
- Pernis 50 liter (50 x Rp 25.000)
|
1.250.000
|
|
- Amplas 60 meter (60 x Rp 10.000)
|
600.000
|
|
Biaya
bahan baku (4
kwintal)
|
4.000.000
|
|
Total
biaya
|
18.951.000
|
Jika
dalam sebulan kita bisa memproduksi 300.000 item souvenir pernikahan dalam
berbagai bentuk dengan harga rata-rata Rp 250 per buah maka kita akan
mendapatkan pemasukan Rp 75.000.000,-. Setelah dikurangi biaya rutin, kita akan
mendapatkan keuntungan bersih Rp 56.049.000,-. Dengan modal awal yang tidak
lebih dari Rp 15.000.000, kita sudah bisa balik modal dalam rangka waktu satu
bulan.
3. Tenaga Kerja
Produksi
souvenir berbahan baku plastik membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak.
Minimal kita harus mempekerjakan 12 orang. Sepuluh orang bertugas di bagian
produksi (pencetakan, pengecatan, dan pembungkusan) dan dua orang di bagian
pemasaran (penjaga workshop). Kita
tidak harus mempekerjakan tenaga kerja terampil karena tata cara pembuatan
souvenir ini mudah untuk dipelajari dan tidak terlalu rumit.
4. Tempat Produksi
Di
tempat produksi ini kita dapat menyimpan dua mesin pencetak. Atau, agar biaya
produksi lebih murah, kita bisa memanfaatkan ruangan kosong di rumah, baik itu
halaman belakang, garasi, gudang, maupun tempat kosong lainnya.
5. Penyaluran / Distribusi
Kita
bisa menyalurkan produk-produk kita dengan menitipkannya ke toko, minimarket,
atau supermarket. Agar bisa menjual produk di sana, kita harus mengajukan
penawaran terlebih dahulu. Namun, akan lebih baik jika kita mempunyai jaringan
langsung dengan orang-orang pemasaran di toko, minimarket, atau supermarket
tersebut. Selain menitipkannya, kita juga bisa menjual produk-produk tersebut
langsung di workshop kita. Satu hal
yang sangat berpengaruh terhadap proses pemasaran adalah promosi. Dalam hal
penjualan souvenir ini, pada umumnya promosi dilakukan melalui cara door-to-door, yaitu dengan mendatangi
agen-agen souvenir maupun melalui kerja sama dengan wedding planner dalam hal
pengadaan souvenir pernikahan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Biji plastik yang telah kita proses dapat dijadikan usaha daur ulang sampah
plastik baik berupa bahan baku setengah jadi (biji plastik) maupun suvenir.
Pengelolaan usaha daur ulang sampah plastik harus terencana baik dalam modal,
pembiayaan, tenaga kerja, tempat produksi, dan cara
menyalurkan/mendistribusikan produk daur ulang. Berikut tip dan trik yang bisa
kita praktikkan agar usaha daur ulang sampah plastik dapat terus berkembang dan
menjadi semakin besar (Gugun Gunawan, 2007: 34):
1. Pastikan modal kita cukup
2. Pahami, apakah usaha yang cocok
untuk kita
3. Kita harus memperhatikan standar
sampah plastik yang akan didaur ulang;
4. Kita tidak perlu modal besar untuk
memulai usaha ini. Ketika tempat sudah ada,
5. Menjalin hubungan dengan industri
yang bergerak dalam usaha daur ulang sampah.
6. Kita harus bisa melihat peluang
pasar yang ada. Dan itu berkaitan dengan kebutuhan industri besar terhadap
bahan baku daur ulang plastic.
7. Kita juga harus memperhatikan
standar harga; ketika menjual produk,
8. Menjalin kerjasama dengan pedagang
dan pemulung untuk memenuhi pasokan bahan baku
9. Untuk gudang, usahakan yang jauh
dari permukiman penduduk karena sebagian dari sampah tersebut dapat menimbulkan
bau tak sedap
10. Terakhir, optimis, disiplin, dan
kerja keras tentunya.
B. Saran
Dalam
pengelolahan usaha ini membutuhkan ketelitian dan keterampilan maka dari itu
sangat dibutuhkan SDM yang sesuai dengan kebutuhan usaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar