Selasa, 21 Juni 2016

parasitologi cacing trematoda



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latarbelakang
Trematoda disebut sebagai cacing hisap karena cacing ini memiliki alat pengisap. Alat pengisap terdapat pada mulut di bagian anterior Alat hisap (Sucker) ini untuk menempel pada tubuh inangnya maka disebut pula cacing hisap.
Pasa saat menempel cacing ini mengisap makanan berupa jaringan ataucairan tubuh inangnya. Ciri khas cacing ini adalah terdapat dua batil isap yaitu batil isap mulut dan batil isap perut ada juga spesies yang memiliki batil isap genital. Trematoda memiliki saluran pencernaan berbentuk huruf  Y terbalik dan pada umumnya tidak memiliki alat pernapasan khusus karena hidup secara anaerob. Saluran ekskresi terdapat simetris bilateral dan berakhir di bagian posterior. Susunan saraf dimulai dengan ganglion di bagian dorsal esofagus, kemudian terdapat saraf yang memanjang di bagian dorsal, ventral dan lateral badan. Dengan demikian maka Trematoda merupakan hewan parasit karena merugikan dengan hidup di tubuh organisme hidup dan mendapatkan makanan di tubuh inangnya.
Seperti halnya, Trematoda usus yang berperan dalam ilmu kedokteran adalah dari keluarga Faciolidae, Echinostomatidae dan Heterophyidae. Dalam daur hidup trematoda usus tersebut, seperti pada trematoda lain, diperlukan keong sebagai hospes perantara I, tempat mirasidium tumbuh menjadi sporokista, berlanjut menjadi redia dan serkeria. Serkeria yang di bentuk dari redia, kemudian melepaskan diri untuk keluar dari tubuh keong dan berenag bebas dalam air. Tujuan akhir serkeria tersebut adalah perantara II, yang dapat berupa keong jenis lain yang lebih besar, beberapa jenis ikan air tawar, atau tubuh-tumbuhan air. Manusia mendapatkan penyakit cacing daun karena memakan hospes perantara II yang tidak dimasak sampai matang.
B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui Metagonimus yokogamai dan klasifikasinya.
2.      Untuk mengetahui Distribusi geografis Metagonimus yokogawai
3.      Untuk mengetahui Hospes Metagonimus yokogawai
4.      Untuk mengetahui Morfologi dan Daur Hidup Metagonimus yokogawai
5.      Untuk mengetahui Siklus Hidup Metagonimus yokogawai
6.      Patologi dan gejala klinis Metagonimus yokogawai
7.      Pencegahan dari penyakit yang ditimbulkan Metagonimus yokogawai






















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Metagonimus yokogawai dan Klasifikasinya
Metagonimus yokogawai merupakan salah satu cacing dari keluarga heterophydae . Cacing dari keluarga heterophydae adalah heterophyes heterophyes, Metagonimus yokogawai, dan haplorchis yokogawai. Berikut taksonomi dari Metagonimus yokogawai :
·         Kingdom : animalia
·         Phylum : platyhelminthes
·         Class : trematoda
·         Family : heterophyidae
·         Ordo : protostomata
·         Genus : Metagonimus
·         Species : Metagonimus yokogawai

B.     Distribusi geografik
Cacing ini ditemukan di Mesir, Turki, Jepang, Korea, RRC, Taiwan, Philipina, dan Indonesia. Di Indonesia, Lie Kian Joe (1951) menemukan cacing Haplorchis yokogawai pada autopsi tiga orang mayat.

C.    Hospes Metagonimus yokogawi
Umumnya hospes definitif dari cacing ini merupakan mahkluk pemakan ikan ini seperti manusia, kucing, anjing, rubah, dan jenis burung-burung tertentu. Hospes perantara : HP1- keong air, HP2-ikan salem. Nama penyakitnya adalah Heterofiliasis.

D.    Morfologi dan Daur Hidup
Cacing dari keluarga Heterophyidae berukuran panjang antara `1-1,7 mm dan lebar antara 0,3-0,75 mm, kecuali genus  Haplorcis  yang jauh lebih kecil, yaitu panjang  0,41-0,51 mm dan lebar 0,24-0,3 mm di samping batil isap kelamin yang terdapat di sebelah kiri belakang.
Cacing ini mempunyai 2 buah testis yang lonjong , ovarium kecil yang agak bulat dan 14 buah folikel vitelin yang letaknya lateral. Bentuk uterus sangat berkelok-kelok, letaknya diantara kedua sekum. Telur berwarna agak coklat muda,mempunyai operkulum, berukuran 26,5-30 x 15-17 mikron, berisi mirasidium.
Mirasidium yang keluar dari telur, menghinggapi keong  air tawar/payau , seperti genus pirenella, Cerithidia, Semisulcospira, sebagai hospes perantara I dan ikan dari genus Mugil, Tilapia, Aphanius, Achantogobius, Clarias dan lain-lain sebai hospes perantara II. Dalam keong , mirasidium tumbuh menjadi sporokista, kemudian menjadibanyak redia induk, berlanjut menjadi banyak redia anak untuk pada gilirannya membentuk banyak serkaria. Serkaria ini menghinggapi ikan-ikan tersebut menjadi metaserkaria.

E.     Siklus Hidup Metagonimus yokogawai
Di sini, siklus hidup M.yokagawai akan diperiksa, namun perlu dicatat M.takahashii dan M.miyatai mengikuti pola siklus hidup yang sama. Ketiga spesies hermafrodit dan mampu melakukan pembuahan . Telur berembrio yang masuk ke lingkungan perairan (air tawar atau payau) masing-masing berisi sepenuhnya dikembangkan larva , yang disebut mirasidium a. Perkembangan tidak dapat dilanjutkan melewati tahap ini kecuali telur yang tertelan oleh tuan rumah perantara pertama, siput . Setelah tuan rumah siput ingests telur, miracidia muncul dan menembus usus siput. Dalam jaringan siput, mircadia berkembang menjadi sporokista, kemudian rediae, dan akhirnya muncul dari siput sebagai serkaria . Serkaria kemudian menembus kulit atau pergi di bawah skala ikan air tawar atau payau dan encyst sebagai metaserkaria dalam jaringan. Jenis ikan yang berfungsi sebagai tuan rumah sekunder bervariasi berdasarkan lokasi. Tuan rumah kemudian menjadi terinfeksi oleh mengkonsumsi matang, mentah, atau acar ikan yang mengandung metaserkaria menular. Metaserkaria kemudian excyst di usus kecil dari host (manusia, mamalia atau burung), dan berkembang menjadi dewasa. Dalam usus kecil, orang dewasa menempel pada dinding dan mengembangkan telur baru.
Gambar 1.0

F.     Patologi dan gejala klinis
Pada infeksi cacing keluarga Heterophyidae, biasanya stadium dewasa menyebabkan iritasi ringan pada usus muda, tetapi ada beberapa ekor cacing yang mungkin dapat menembus vilus usus. Telurnya dapat menembus masuk aliran getah bening dan menyangkut di katup – katup atau otot jantung dan mengakibatkan payah jantung. Kelainana ini terutama dilaporkan pada infeksi cacing Metagonimus dan Haplorchis yokogawai. Telur atau cacing dewasa dapat bersarang di jaringan otak dan menybabkan kelainan disertai gejala – gejalanya. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh infeksi berat cacing tersebut adalah mulas – mulas atau kolik dan diare dengan lendir, serta nyeri tekan pada perut.

G.    Epidemiologi
Manusia, terutama pedagang ikan dan hewan lain seperti kucing, anjing, dapat merupakan sumber infeksi bila menderita penyakit cacing tersebut, melalui tinjanya. Telur cacing dalam tinja dapat mencemari air serta ikan yang hidup didalamnya. Hospes definitif mendapatkan infeksi karena memakan daging ikan mentah yang mengandung metaserkaria hidup. Ikan yang diproses kurang sempurna untuk konsumsi, seperti fessikh, dapat juga menyebabkan infeksi. Sebagai usaha untuk mencegah meluasnya infeksi cacing heterophyidae, kebiasaan memakan daging ikan harus diubah.

H.    Pencegahan.
Pencegahan penyakit oleh trematoda dapat di lakukan beberapa hal yaitu pengobatan penderita sebagai sumber infeksi, desinfeksi dan sanitasi pembuangan tinja, urine atau sputum, kampanye antimolusca (pemberantasan keong air tawar). Serta pendidikan terutama menyangkut mandi serta makan.












BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Metagonimus yokogawai merupakan salah satu cacing dari keluarga heterophydae . Cacing dari keluarga heterophydae adalah heterophyes heterophyes, Metagonimus yokogawai, dan haplorchis yokogawai. Di Indonesia, Lie Kian Joe (1951) menemukan cacing Haplorchis yokogawai pada autopsi tiga orang mayat. hospes dari cacing ini merupakan mahkluk pemakan ikan ini seperti manusia, kucing, anjing, rubah, dan jenis burung-burung tertentu. Nama penyakitnya. adalah Heterofiliasis memiliki gejala patologi mual-mual serta nyeri pada usus. Umumnya dari keluarga heterophyes memiliki morfologi dan daur hidup yang sama.

B.     Saran
Sebaiknya dalam melakukan pencegahannya terlebih dahulu mengatasi sumber infeksi, desinfeksi dan sanitasi pembuangan tinja, urine atau sputum, kampanye antimolusca (pemberantasan keong air tawar) yang teridentifikasi penyakit heterofiliasis. Serta pendidikan hygine perseorangan terutama menyangkut mandi serta makan.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar